Apakah anda termasuk orang yang percaya
adanya sebuah lorong waktu?
Kalau kamu sobat generasi 90an tentu tidak
asing dengan sinetron “Lorong Waktu”. Sebuah sinetron yang terkenal oleh dua
tokohnya yakni Pak Haji yang dibintangi oleh Deddy Mizwar dan tokoh Zidan
(Jourast Jordy). Sinteron Lorong Waktu menggambarkan dapat membawa kita ke masa
lampau sesuai yang kita inginkan. Semasa kecil Sinetron yang tayang di bulan
Ramadhan ini selalu dinantikan oleh
anak-anak seangkatanku.
Hari Sabtu 16 Februari 2019 lalu, aku
mengalami dibawa ke sebuah lorong waktu layaknya Sinetron
“Lorong Waktu” yang kita bahas tadi. Yang benar saja? Ya, memang benar hal itu
terjadi. Atau setidaknya yang aku alami. Di Pagi yang cukup hangat itu, aku
bersama beberapa orang lainya yang belum aku kenal melakukan “Jelajah
Malioboro” Bersama Komunitas Malam Museum. Komunitas Malam Museum merupakan
perkumpulan yang berfokus pada kegiatan edukasi pengetahuan serta sejarah yang
dilakukan langsung di tempat bersejarah tersebut. Komunitas yang berdiri sejak
tahun 2012 ini mengajak kita untuk menemukan keseruan belajar sejarah serta menjelajah museum dan
cagar budaya dengan cara yang menyenangkan.
Bagaimana keseruan kegiatan “Telusur
Malioboro” Sabtu lalu?
Nah, jadi sekitar pukul 09.00 WIB kami berkumpul
di titik kilometer Yogyakarta. Ketika aku datang kegiatan sudah dimulai, dan
sepertinya sedikit telat. Bersama seorang kawan aku datang dan langsung
bergabung. Kegiatan diawali dengan penjelasan mengenai sejarah Kota Yogyakarta,
dari sebelum Keraton Kesultanan Yogyakarta dimulai hingga apa makna filosofi
garis lurus merapi hingga Keraton Yogyakarta.
Selama kurang lebih 4 tahun tinggal di
Yogyakarta, saya rasa baru kali ini saya menjadi wisatawan ‘resmi’. Kok Resmi?
Ya gaes karena ada pemandu
yang akan menjelaskan tentang berbagai hal yang berkaitan dengan Malioboro.
Dalam kegiatan ini, yang bertindak sebagai pemandu
telusur sekaligus yang menjelaskan kepada kami ialah Erwin, seorang pria asal
Makassar lulusan Sejarah Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Pembawaannya
santai, namun penuh energi ditunjukkan oleh Erwin ini. Beliau menjelaskan
sejarah beserta seluk beluk Malioboro dengan sangat menarik.
Spot Kilometer Nol
Dalam kesempatan ini kita diajak untuk
berhenti dibeberapa spot. Pertama spot kami adalah Titik Nol Kilometer Yogyakarta. Disini kita dijelaskan cukup
panjang mengenai sejarah terbentuknya Kesultanan Ngayogyakarta, hingga sejarah
awal mulanya Keraton Yogyakarta berdiri.
selanjutnya kita berhenti di Spot
seberang Gereja BPIB Margomulyo yang
merupakan Gereja tertua yang dibangun Jauh sebelum era kemerdekaan oleh
pemerintah Hindia Belanda. Di Spot ini kita juga dijelaskan mengenai Sejarah
Pasar Beringharjo. Dijelaskan bahwa pasar Beringharjo dahulunya ialah hutan
beringin hingga setelah berdirinya Keraton Yogyakarta tahun 1758 dijadikan
pusat transaksi ekonomi oleh warga Yogyakarta dan sekitarnya.
Yang
menarik dalam kegiatan ini yakni sang Pemandu menyertakan foto zaman dahulu
bangunan yang dijelaskan. Tentu hal ini menyebabkan imajinasi kami melayang ke
zaman tersebut.
Potret Mas Erwin (Komunitas Malam
Museum)
Bioskop Indra yang Legendaris
Spot selanjutnya kami berhenti di depan
Bangunan yang dahulunya adalah sebuah bioskop. Jauh sebelum adanya XXI, CGV Blitz, 21 Cineplex dan
lain-lain seperti yang anda nikmati sekarang. Bioskop ini bisa dikatakan bioskop pertama yang ada di
Yogyakarta. Bioskop ini berdiri sejak zaman penjajahan Belanda, dahulu bioskop ini berada dibawah kepemilikan Nederland Indische Bioscopp Ezploitatie Maatschappij, sudah
tak usah dibaca daripada lidah anda keselo. Dahulu Nama bioskop ini bukanlah ‘Indra’, tetapi ‘Al-Hambara’.
Namun setelah kemerdekaan, namanya diubah menjadi Indra atau singkatan dari
Indonesia Raya.
Dijelaskan oleh Erwin bahwa bioskop ini
dahulu hanya diperuntukkan bagi orang-orang berstrata tinggi, seperti bangsa
Belanda, Eropa,
bangsawan dan elit pribumi.
Yang menarik di
Bioskop ini dahulu banyak film-film dari eropa yang diputar disini, tidak
seperti sekarang yang hanya menayangkan film dari Amerika (Hollywood), padahal
menurut Erwin film-film dari perancis, turki, jerman dan negara eropa lainya
tak kalah menarik. Hal ini disebabkan pada masa pemerintahan Soeharto dulu,
terjadi politik dagang antara Amerika dan Indonesia yang mengharuskan Film luar
negeri hanya Amerika saja yang boleh tayang (tentu demi pemasukan negri Paman
Sam itu sendiri).
Bagi yang orang tuanya asli Yogyakarta
atau pernah kuliah di Yogyakarta mungkin tidak asing atau bahkan memiliki
banyak kenangan di Bioskop ini. Coba tanyakan pengalaman apa yang pernah dilalui saat
dulu di Bioskop yang sudah sirna ini.
Bangunan lama yang masih eksis
Spot selanjtunya ialah kita berhenti di
depan Toko Kue dan Roti “Djoen”. Sebelum terkalahkan oleh J.Co, Starbuck, Mc. D dan teman-teman
sekorporasinya yang makin hari makin menjadi itu. toko kue dan roti ini sudah ada sejak zaman pejajahan
Belanda hingga hari ini masih terus eksis oleh anak cucu dari pemiliki awalnya
dahulu. Sepanjang perjalanan kami berhenti untuk diperlihatkan foto-foto zaman
dahulu dengan keadaan sekarang. Seperti bangunan Toko Obat Kimia Farma, yang
dahulu juga merupakan toko Obat di zaman penjajahan belanda, Toko Obat
“Enteng”, dan pertokoan lainya.
Dijelaskan pula dahulu sebelum tahun 1917 suasana Malioboro ketika malam
hari gelap gulita. Sebab, pada masa itu belum ada lampu dan listrik. Hingga
pada tahun 1917 datang listrik dan lampu gas. Setelah empat tahun masa
pembangunan jaringan dan instalasi maka pada 1917 listrik telah menyala di kota
Yogyakarta, dengan daerah awal yaitu Keraton dan residen. Adanya listrik juga
merambah ke Jalan Malioboro sehingga aktivitas toko di Jalan Malioboro
berlangsung hingga malam serta mulai hidupnya dunia malam di Malioboro.
Kepatihan Yogyakarta
Setelah mengenang beberapa
bangunan dan Toko Roti Lengendaris “Djoen” berhenti di depan Kepatihan Yogyakarta.
Dalam penjelasanya Erwin menyebut bahwa yang menjalankan pemerintah,
administrasi Kesultanan Yogyakarta ialah para patih yang tinggal di Kantor
Kepatihan ini. Di dalam keraton Yogyakarta para patih ini disebut patih
Danureja. Para Patih inilah yang menjadi wakul Sultan dalam membentuk
perjanjian-perjanjian dengan para kolonial. Jadi, Sultan bukanlah pelaksana
pemerintahan melainkan Simbol yang mempersatukan rakyat Yogyakarta.
DPRD DIY dahulu gedung Setan/Lodji Setan?
Setelah berhenti sejenak di depan Gerbang
kantor Gubernur Kepatihan Yogyakarta, kami beralih ke spot berikutnya yakni
Gedung DPRD DIY. Penjelasan yang menarik disampaikan oleh Erwin, gedung yang
saat ini menjadi gedung parlemen DIY ini, dahulu pada awal berdirinya merupakan
Gedung milik gerakan Freemason.
Gedung mason ini muncul di Hindia Belanda pada tahun 1870. Gerakan mason ini dicetukskan oleh Freemasonry atau dalam bahasa Belanda
disebut vrijmeselarij (perkumpulan
orang-orang belanda di Yogyakarta). Gerakan mason
mungkin selama ini kita kenal dengan berbagai versi, ada yang mengenal sebagai
gerakan sekte-sekte pemuja setan, ada yang mengenal sebagai gerakan yahudi dan
sebagainya. Namun dalam penjelasan ini aku memperoleh
informasi baru
yang belum kudengar sebelumya.
Menurut penuturan Erwin, gerakan mason bergerak di bidang pendidikan pengajaran yang bercita-cita mewujudkan kesetaraan dalam dunia pendidikan. Kegiatan mason
ini bukan tidak berdampak. Jika kita lihat ke belakang tokoh-tokoh besar
Indonesia merupakan produk dari pendidikan mason
ini. Tokoh-tokoh tersebut antara lain Dr. Wahidin Sudirohusodo, Ki Hadjar
Dewantara, pergerakan Boedi Utomo dan lain sebagainya.
Hal ini membawaku untuk mencari informasi
mengenai gedung DPRD DIY ini. Hingga kutemukan informasi dari laman web kemdikbud menyebut bahwa Gedung Mason
digunakan gerakan Mason sebagai pusat kegiatan teosofi. Kegiatan tersebut bersumber tradisi pengajaran dan latihan
persaudaraan para artisan era abad pertengahan
yang mengedepankan tata cara berserikat secara bebas atau merdeka. Tujuan
kegiatan itu untuk membentuk kesadaran untuk selalu menekankan kebebasan,
kesetaraan, melakukan amal dan taat kepada peraturan perundangan yang ada. Gimana menarik kan?
Spot Hotel Grand Inna Malioboro
Lanjut setalah fikiran kita
dibawa ke era dimana kegiatan Freemason dahulu berlangsung, kita berpindah
menuju spot berikutnya. Spot kali ini kita berhenti di depan Gedung Hotel Grand
Inna Malioboro. Hotel ini sudah ada sejak sangat jauh sebelum Indonesia
merdeka, yakni tahun 1908. Hotel yang
pada awal berdirinya bernama Hotel De
Djokdja ini di bangun oleh pemerintah Hindia Belanda karena pada masa itu,
pariwisata di Yogyakarta sudah sangat terkenal hingga ke manca negara, yang
menyebabkan hal itu terjadi salah satunya adalah dipugarnya Candi Borobudur.
Candi yang oleh Thomas Stamford Rafles
ditemukan di tahun 1814. Orang Belanda mempromosikan candi Borobudur secara
masif sehingga mendatangkan banyak wisatawan yang dengan itu mereka dapat
memperoleh keuntungan materi. Di Spot ini, kami ditunjukkan oleh Erwin foto bangunan
hotel Grand Inna Malioboro pada awal berdirnya. Bangunan awal dan sekarang
sudah banyak mengalami perbuahan, di sisi sayap kanan dan kirinya.
Di depan Hotel, terdapat bangunan Jogja
Library Center. Gedung ini masih asli dari dulu hingga sekarang. Di dalam Jogja
Library Center ini, pada masa dahulu menjual pernak-pernik seperti perangko
bergambar pemandangan yang ada di Hindia Belanda, seperti gunung-gunung,
sungai, Candi Borobudur. Orang-orang Belanda dan eropa yang ada di Yogyakarta
sering membeli dan mengirimkannya kepada keluarga di tempat asalnya sebagai
kabar dan ungkapan rindu mereka. Selain itu mereka juga membangun banguann
dengan bentuk perpaduan bangunan khas timur dan eropa (belanda), contoh
bangunan yang ada di ujung utara Jalan Malioboro. Hal itu mereka lakukan
sebagai penawar rindu terhadap kampung halaman mereka.
Perjalanan imajinasi yang panjang
melampaui berbagai waktu tentu sangat menggembirakan bagi kami para peserta.
Setelah di spot terakhir, Erwin dari komunitas Malam museum ini mengucapkan
terimakasih dan pamitan. Kami para peserta diminta untuk secara sukarela
memberikan donasi kepadanya. Tentu hal ini kami lakukan dengan senang hati,
karena kami merasakan begitu antusias dan tulusnya Erwin dalam membersamai kami
berjalan melintasi lorong waktu. Kegiatan kita akhiri dengan berfoto bersama
sebelum akhrinya kami kembali pulang dengan jiwa yang penuh imajinasi.



BalasHapusizin share ya admin :)
buruan gabung bersama kami,aman dan terpercaya
ayuk... daftar, main dan menangkan
Line : agen365
WA : +855 87781483 :)
Silakan di add ya contaknya dan Bergabung juga ya :)
Ditunggu ya Bosku :)