Sutradara : Chbosky
Diangkat dari
novel karya R.J Palacio
Saat pertama kali melihat poster film ini sebagian
orang mungkin menganggap film ini bercerita mengenai keajaiban seorang anak
dari luar angkasa. Hal itu yang terfikir di benak saya ketika melihatnya.
Setelah menyaksikan secara penuh ternyata hal itu tidaklah tepat. Lalu apa yang
diangkat dalam film ini?
Cerita di awali dengan pengenalan tokoh utama dalam
Film ini, seorang anak laki-laki dari sebuah keluarga di wilayah New York,
Amerika Serikat. Secara umum keluarga ini sama seperti keluarga yang lain. Hal
yang membedakan adalah adanya anggota mereka yang memiliki penampilan fisik
yang berbeda di bagian wajahnya. Dengan pembawaan yang santai khas film
keluarga, adegan pertama memperkenalkan tokoh utama, Auggie Pullman (Jacob
Tremblay). Ia dilahirkan dengan cara yang seru dan meriah. Sesaat setelah ia
keluar dari rahim ibunya, Isabel Pullman (diperankan aktris kawakan Julia
Roberts), karena suatu ketidaknormalan ia harus mendapat 27 operasi . Hal
tersebut antara lain untuk membantunya bernafas, melihat, mendengar tanpa alat
bantu, dan hal lain untuk membuat ia tampak lebih baik.
Auggie sama seperti anak seusianya, ia makan seperti
yang orang lain makan, ia menyukai olahraga, meski hanya di dalam xbox miliknya. Anak kedua dari pasangan Nate
Pullman (diperankan oleh Owen Wilson) dan Isabel Pullman ini menyukai bidang
astronomi. Ornamen, dan hiasan ala luar angkasa terpajang di dalam kamarnya. Dengan
helm astronot dikepalanya, Auggie mendengar dari kejauhan percakapan kedua
orang tuanya mengenai rencana mendaftarkan Auggie ke sekolah umum.
Auggie sebelumnya mengikuti home schooling karena kondisi wajahnya. Di tahun ini ia harus siap menghadapi lembaran baru sebagai siswa kelas 5 di Beecher Preparation School (Semacam sekolah dasar, namun sangat berbeda dengan yang ada di Indonesia). Ada sebuah tantangan besar baik bagi orang tua Auggie untuk merelakan puteranya yang sedikit berbeda secara fisik bergaul dengan dunia luar, maupun bagi Auggie untuk menghadapi anak-anak seusianya yang mungkin belum siap menerima orang lain yang memiliki kelainan wajah sepertinya.
Auggie sebelumnya mengikuti home schooling karena kondisi wajahnya. Di tahun ini ia harus siap menghadapi lembaran baru sebagai siswa kelas 5 di Beecher Preparation School (Semacam sekolah dasar, namun sangat berbeda dengan yang ada di Indonesia). Ada sebuah tantangan besar baik bagi orang tua Auggie untuk merelakan puteranya yang sedikit berbeda secara fisik bergaul dengan dunia luar, maupun bagi Auggie untuk menghadapi anak-anak seusianya yang mungkin belum siap menerima orang lain yang memiliki kelainan wajah sepertinya.
Pergulatan Rasa
Auggie memasuki Sekolah Umum
Sebelum memasuki sekolah baru orang tua Auggie,
berusaha keras untuk membekali Auggie tentang apa-apa yang akan ia hadapi di
sekolah. Hal itu seperti akan adanya orang yang memandang Auggie secara remeh,
akan adanya teman yang jahil dan hal lainya. Tampak sekali kecemasan,
kepedulian dan kesungguhan orang tua Auggie dalam mendorong semangat putranya.
Sebelum memasuki musim ajaran baru, Auggie dibawa
terlebih dahulu ke calon sekolahnya dan menemui sang kepala sekolah yang
simpatik, Mr. Tushman (Mandy Patinkin). Dalam pertemuan ini, MR. Tushman
Mengenalkan Auggie dengan beberapa anak lainya, seperti jack Will (Noah Jupa)
dan Julian Albans (Bryce Geishar). Jack Will adalah anak dari keluarga menengah
yang berhasil masuk ke sekola swasta tersebut karena mendapat beasiswa.
Sedangkan Julain Albans adalah anak dari kelarga elite yang selalu membanggakan
diri akan kekayaan yang dimlikinya dan keluarganya.
Sejak hari pertama dia masuk sekolah, Auggie menerpa
berbagai cobaan, seperti sorotan mata yang menghunus dari anak-anak lain,
hinaan, cercaan dan pandangan remeh lain dari Julian dan gengnya. Film ini cukup menggambarkan bagaimana sistem
pendidikan yang ada di Amerika. Hal tersebut diantaranya mengenai sekolah yang
membebaskan siswa untuk memilih mata pelajaran yang diinginkan. Selain itu
interaksi guru murid terjalin hangat, bagaimana hubungan guru dan murid
bukanlah hubungan patron-klien (Hubungan atasan dan bawahan) melainkan hubungan
kawan yang setara, hubungan saling kenal, memahami dan menghargai. Hal ini
terlihat saat hari pertama masuk sekolah, sang guru berupaya membangun hubungan
yang hangat dengan saling mengenal satu sama lain. Dalam kesempatan itu Julian
Alban memuji gurunya “And I think it’s cool how you’re pursuig your dream”.
Adegan siswa yang aktif dan tidak merasa takut untuk berekspresi. Hal yang
jarang ditemui di Indonesia.
Dalam banyaknya rintangan yang menerpa Auggie, Orang
tua Auggie dan kakaknya senantiasa berusaha untuk menguatkan Auggie hingga ia
mampu untuk melaluinya. Hal ini juga tak terlepas karena Jack Will yang mau
bergaul dan datang ke rumah Auggie. Persahabatan Auggie dan Jackpun tidak
mudah, mereka harus mengalami keretakan yang diebabkan oleh kesalah fahaman.
Kisah karakter
Tokoh yang Majemuk
Salah satu yang menarik dalam Film berdurasi 1 Jam
53 Menit ini tidak hanya menceritakan kisah Auggie saja, ada
bagian-bagian yang secara khusus menyampaikan kisah dari sudut pandang karakter
lain yang ada di sekitar kehiudpan Auggie.
pertama ialah kisah sang kakak, Olivia. Meskia ia memiliki
kesabaran dalam menghadapi Auggie yang sering sakit-sakitan, namun ia juga
merasa bahwa perhatian yang dicurahkan oleh kedua orang tuanya jauh lebih besar
diberikan kepada sang adik. Olivia merasa, bahwa orangtaunya tidak benar-benar
memahami dirinya. Olivie memiliki persahabtan sejak kecil dengan Miranda
(Danielle Rose Russel). Miranda dianggap adalah orang yang benar mengerti
dirinya. Setelah liburan musim panas, Miranda tiba-tiba menjauh dari Olivia.
Entah apa yang menyebabkanya, yang jelas Miranda sedang ingin mencoba hal baru
di Sekolah barunya. Tidak lama, Olivia
bertemu dengan lelaki bernama Justin yang kemudian menjadi teman dekatnya.
Yang kedua adalah cerita dari sudut pandang Miranda.
Seorang gadis yang sejak di taman kana-kanak menjadi teman dekat Olivia. Bagi Miranda,
keluarga Pullman adalah rumah kedua baginya. Dalam bagian ini juga dijelaskan
secara khusus apa yang menyebabkan ia menjauhi Olivia.
Dengan ditampilkanya kisah dan latar belakang dalam
sejumlah sosok disekitar Auggie. Penonton menjadi dapat memahami dan berempati
pada masing-masing karakter yang ada dalam cerita.
Dalam penjabaran tokoh masih ada kekurangan.
Misalnya tidak jelasnya profesi ayah Auggie. Ia direpresentasikan sebagai
seorang ayah yang keseharianya mengenakan kemeja dan dasi. Sehingga
menimbulkan pertanyaan bagi penonton.
Penghayatan Karakter
yang Natural
Dalam penghayatanya sebagai karakter dalam Film,
setiap pemeran berhasil menampilkan akting yang ciamik dan natural. Jacob Tremblay yang berhasil memainkan peran seorang anak “buruk rupa” namun tetap
teguh dan optimis dalam menjalani hidup. Hal ini tidak terlepas dari akting
Julia Roberts yang berhasil memerankan sosok ibu yang terus berjuang menguatkan
Keluarga, terutrama Auggie.
Peran tak kalah ciamik juga dari Izabela, gadis yang
masih berusia 16 tahun ini sukses berperan sebagai seroang kakak yang meski harus
bersabar sebab adiknya yang berkebutuhan khusus tetapi ia tetap bersikap
dewasa.
Hal yang menarik lain dari “Wonder” lainya ialah banyaknya pesan-pesan
positif berkaitan dengan pendidikan anak, keluarga, sekolah serta pergaulan yang
bisa diambil. Seperti nasihat-nasihat orang tua Auggie kepada anak sebelum memasuki
dunia luar. Seperti saat sesi makan malam di hari pertama Auggie bersekolah Isabel
mengatakan “And when someone acts small, you just have to be the bigger person,
all right?” dalam menasihati Auggie saat ada orang yang meremehkanya untuk bisa
bersikap lebih besar. “If you don't like where you are just picture where you
wanna be”.
Di dalam kelas, Guru kelas Auggie, Mr. Browne banyak
berbagi prinsip hidup saat di awal kelas. Misalnya “When given the choice
between being right or being kind, choose kind”. “your deeds are your
monuments”. Dan masih banyak lagi yang dapat dicontoh dan diterapkan di Indonesia.
Atau sang kepala skolah yang berpidato di akhir tahun
ajaran “Courage. Kindmess. Friendship. Character.
These are the qualitites that define us as human beings, and propel us, on occasion,
to greatnes”.
(keberanian. Kebaikan. Persahabatan. Karakter. Itu
adalah kualitas yang mendefinisikan kita semua sebagai manusai, dan
melestarikan diri kita, sesekali, kepada keagungan).
Oleh : Helmi Denada Ari S



Komentar
Posting Komentar