Sore itu, sekira pertengahan November 2018 ketika
aroma tanah usai terguyur hujan cukup lebat merasuk ke dalam dada. Kami datang
untuk kesekian kalinya, ke tanah perkampungan padat dekat kami tinggal di Yogyakarta. Kampung
Ledok Code.
“Weh…Mas Helmi!!” Teriak Nisa, Gadis 3,5 tahun dari jauh embari
berlari. Disusul oleh kawan kecil lainnya, Cello, Dzaki, Najwa, Falen yang
bubar dalam permainan demi menggeromboliku. “Kok
ra tau rene e mas?” Dzaki menanyakanku sambil lendotan di kakiku.
“Iya, Mas Helmi
nembe rampung KKN” Jawabku singkat.
“Kok ra KKN ning kene wae?” sambutnya
dengan polos.
Lalu aku jawab “Ya
nggak bisa, KKN yang menentukan dari kampus le”.
Dzaki ini adalah seorang anak usia 8 tahun putra dari
mantan ketua RT 18 tempat tinggalnya, merupakan salah satu kawan yang aktif dan
cerdas, baik dalam pemahaman maupun sosial.
Tampaknya mereka masih tetap sama, menjalani dunia
mereka dengan penuh kegembiraan, ditengah kondisi kehidupan orang tua mereka
yang tidak mudah. Menjadi warga marginal wialayah yang konon Kota Pendidikan ini,
dengan kondisi rumah yang sangat padat, dan ekonomi yang serba pas kadang
kurang. Tetapi itulah dunia anak-anak, dengan optimisme dan suka cita tinggi
selalu mereka curahkan dalam setiap kesempatan.
Setelah pertemuan menggembirakan itu dibuka kembali,
kami sepakati untuk belajar bersama kembali di sanggar belajar Ledok Code
kesayangan kawan-kawan kecil Code. Bersama kawan-kawan relawan yang lain banyak
hal menyenangkan yang dilakukan dengan kawan kecil Code, kegiatan berkisah,
mengaji, belajar, menonton film, hingga berkunjung ke tempat-tempat edukatif di
sekitar Yogyakarta.
Barangkali diantara kita ada yang bertanya “apasih yang mendorng, melakukan hal seperti
ini?”. Sebenarnya agak aneh juga kalau ditanya seperti ini, tapi akan coba ku
jawab sebisa mungkin. Jadi, apa alasan kami melakukan kegiatan ini, sebenarnya
sederhana hal ini tak ubah layaknya panggilan yang secara naluriah datang dalam
benak kami masing-masing. Asek, gaya tenan yo le. Tetapi juga dapat dilihat
dari beberapa sudut pandang.
Pertama, jika dilihat dari sudut pandang kami sebagai mahasiswa, maka hal ini baranhkalo adalah bentuk dari pengamalan Tri Dharma Perguruan Tinggi, diamana terdiri dari
Pertama, jika dilihat dari sudut pandang kami sebagai mahasiswa, maka hal ini baranhkalo adalah bentuk dari pengamalan Tri Dharma Perguruan Tinggi, diamana terdiri dari
1. Pendidikan dan pengajaran,
2. Penelitian dan Pengembangan,
3. Pengabdian
kepada Masyarakat.
Ditengah belenggu budaya pragmatis, kami berupaya untuk tak mengikuti arus seperti itu.
Ditengah belenggu budaya pragmatis, kami berupaya untuk tak mengikuti arus seperti itu.
Kedua, jika dari sudut pandangan Agama, menurut perasangka
kami hal ini termasuk yang Allah
perintahkan kepada Nabi Muhammad dari 7 perintah yang ada. Yakni perintah Allah
kepada Nabi untuk senang menamani orang yang miskin, lemah, dilemahkan atau
tertindas. Dalam hal ini tentu,, tak sekadar menemani akan tetapi juga
melakukan bantuan apapun yang bisa sekiranya dibutuhkan disana dan kita mampu.
(semoga prasangka kami diterima hehe).
Ketiga, Sebagai barangkali kami mengusahakan bagaimana adab
kita bertetangga. Sebenarnya perasaan ini agak terganggu, ketika kita
bertetangga sebelah. Dalam hal ini antara Masjid Syuhada dengan perkampungan
sekitar akan tetapi jarang bahkan tidak pernah berinteraksi atau berbagi suatu hal
manfaat. Sikap abai barangkali sudah terlalu lama menjangkiti kita terutama
dengan lingkungan kita yang tidak memberi
manfaat secara praktis.
Awal Mula Relawan
Forum Anak Code
Kegiatan belajar bersama ini sebenarnya sudah dimulai
sejak lama, kala itu berawal dari keresahanku bersama teman Asrama Putra Masjid
Syuhada, sebutlah dia Akmal, seorang karib asa Kota Santri, Rembang dengan
segenap pemikiran liarnya. Kami menghabiskan waktu dengan bercanda serta
membahas eklsusivitas Masjid yang selama ini kita tinggali, dimana kebanyakan
hanya fokus untuk mengurusi perhelatanan event saja. Seringkali lupa bahkan cenderung
enggan membuka mata dengan sekelilingnya yang amatlah membutuhkan kepedulian
dari kaum-kaum muda yang kabarnya bersekolah hingga perguruan tinggi ini.
Berangkatlah kami bersama beberapa teman asrama lain untuk terjun ke kampung
Ledok Code ini, hingga waktu berlanjut kami kemudian memutuskan untuk membuka
kesempatan bagi teman-teman di luar yang ingin bergabung dalam kegiatan
kerelawanan di Ledok Code ini.
Tahap awal pembukaan kesempatan relawan ini cukup ramai peminat, hingga pada periode akhir 2017 lalu daftar relawan hingga mencapai 20-an orang. Saat ini barangkali hanya menyiakan beberapa nama seperti Fira dan Vemmy dengan pembawaan pengajaran Iqronya, Atika, Akmal, dan beberapa relawan eks-KKN UIN 2018 di Ledok Code. Ya, meski jumlah yang aktif mulai mengecil, tapi tak menjadi apa, dengan berapapun orang yang sungguh-sungguh kurasa lebih berarti daripada banyak orang yang hanya singgah penasaran.
Tahap awal pembukaan kesempatan relawan ini cukup ramai peminat, hingga pada periode akhir 2017 lalu daftar relawan hingga mencapai 20-an orang. Saat ini barangkali hanya menyiakan beberapa nama seperti Fira dan Vemmy dengan pembawaan pengajaran Iqronya, Atika, Akmal, dan beberapa relawan eks-KKN UIN 2018 di Ledok Code. Ya, meski jumlah yang aktif mulai mengecil, tapi tak menjadi apa, dengan berapapun orang yang sungguh-sungguh kurasa lebih berarti daripada banyak orang yang hanya singgah penasaran.
Ada sebuah mimpi kami bersama, mengenai kampung Ledok Code yang berada di pusaran Pusat Kota Yogyakarta ini menjadi kampung yang mandiri, secara moral, spiritual maupun ekonomi melalui program kampung wisatanya.
Barangkali ini, sedikit cerita tentang kampung kecil
di tengah Kota Yogyakarta yang tak banyak orang memperhatikan. Sampai jumpa di tulisan ringan berikutnya :) Kepedulian
kawan-kawan sekalian sudah ditunggu masyarakat, jangan tunda-tunda!


BalasHapusizin share ya admin :)
buruan gabung bersama kami,aman dan terpercaya
ayuk... daftar, main dan menangkan
Line : agen365
WA : +855 87781483 :)
Silakan di add ya contaknya dan Bergabung juga ya :)
Ditunggu ya Bosku :)