Kajian Ahad Pagi Masjid Syuhada 17 Januari 2016
Optimalisasi Dakwah di Era Globalisasi
Ada yang menarik dari kata globalisasi, banyak penafsiran mengenai
hal ini. Dalam Kajian Ahad pagi Masjid Syuhada tanggal 17 Januari 2016, di
Jelaskan bahwa Globalisasi adalah Era dimana batas-batas negara menjadi kabur,
dengan kaburnya batas-batas negara itu di tandai dengan dengan bebas masuknya
informasi maupun hal apapun ke khalayak umum, hal itu sangat berpengaruh
terhadap pola perilaku umat terlebih terhadap kamu Muslimin. Kajian Ahad pagi
ini di isi oleh seorang Ustadz yang memiliki nama yang cukup unik, beliau
bernama Imam Mahdi, beliau tidak
mengenal istilah globalisasi, melihat kondisi zaman sekarang yang seperti ini
masyarakat kita dikatakan sebagai masyarakat modern ketika sudah melakukan
hal-hal yang terbaru dan lain sebagainya yang cenderung bergaya konsumtif. Dalam
ceramahnya beliau mengutip yang dikatakan oleh Pakar ESQ, Ari Ginanjar bahwa
manusia modern adalah manusia yang
keluar dari fitrahnya.
Kenapa dakwah tidak bisa optimal? Yang pertama adalah tidak adanya stok da'i dan da'iyah yang siap mengemban amanah."Apa yang harus kita perbaiki agar era ini tidak membuat kita semakin jauh dari nilai nialai agama, jauh dengan Allah? Yang pertama mari kita lakukan kaderisasi mubaligh-mubaligh, fasilitasi mereka, berikan kesempatan mereka yang muda muda, karena yang tampil di depan tidak harus yg sempurna. Dengan memberi kesempatan ini supaya ada generasi genarasi yang sudah terlatih" Begitu ucap Ustadz yang berasal dari Riau ini.
Yang kedua Media yang
digunakan dalam berdakwah monoton, kita sadar bahwa era sekarang sudah banyak
berkembang media dakwah, misalnya Nahdhatul Ulama dan Muhammadiyah yang
memiliki stasiun televisi, banyak para da’i yang membuat konsep dakwah dengan media
musik seperti Cak Nun dan Kiai Kanjeng, Hanum Rais dengan buku dan filmnya dan
masih ada banyak lagi. Namun sayangnya hal ini dilakukan hanya beberapa orang
tertentu saja. Tugas kita adalah bagaimana dalam menyampaikan dakwah semenarik
mungkin, bagaimana orang tidak bosan dengan apa yang kita sampaikan walaupun
hanya sedikit. Kemudian selanjutnya yang ketiga adalah adanya alat ukur yang
jelas, artinya adalah ada evaluasi terhadap da’i maupun secara keseluruhan
acara tersebut, apakah dakwah itu efektif, apakah jamaah itu menarik dan lain sebagainya,
yang tentunya ada tindak lanjut dari evaluasi tersebut.
. Kemudian
perlunya pemetaan dakwah, bagaimana kita melihat dakwah dari segi ekonomi, segi
pendidikan. Tidak dipungkiri bahwa kristenisasi yang terjadi di sekitar kita
berlatarbelakang faktor ekonomi, dalam sebuah penelitian disebut bahwa
kristensisai di daerah-daerah sudah dialokasikan sebesar 10 hingga 15 juta
rupiah setiap orang. Yang dapat kita ambil pelajaran dari hal ini adalah
bagaimana kita meningkatkan kapasitas diri untuk menjadi lebih baik dari segi
agama dan dunia, karena apabila kita hanya mengajarkan sholat namun tidak
dibarengi dengan berbagi pengetahuan tentang bagaimana meningkatkan
perekonomian maka kemungkinan besar dakwah tidak akan efektif.
oleh : Helmi Ari Shandy
Komentar
Posting Komentar